Sambutan Pendiri

SAMBUTAN PERESMIAN KULIAH PERDANA SEKOLAH TINGGI KULLIYATUL QUR’AN AL-HIKAM DEPOK

9 JANUARI 2011

“AL-HIKAM DIBANGUN DIATAS EMPAT PILAR”

Oleh KH. Ahmad Hasyim Muzadi

Para hadirin yang saya muliakan, Al-Hikam Depok adalah kelanjutan dari Al-Hikam Malang. Di Malang Al-Hikam ada dua bagian, khusus untuk ma’had aly yang mengajarkan pengembangan pemikiran dari anak-anak yang sudah bagus kitab kuningnya tetapi belum mengetahui lapangan dimana dia harus melakukan pengembangan keilmuannya. Yang kedua adalah pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang yang menampung anak-anak yang sudah pintar namun belum banyak mengenyam pendidikan agama semenjak sekolah dasar. Dan dalam pengalaman saya, membuat pintar orang yang sudah benar lebih mudah dari pada membuat benar orang-orang yang sudah keduluan pintar.

Pengalaman dimalang selama 21 tahun itulah yang kami kembangkan disini. Keharuan kesyukuran kepada Allah Yang Maha Kuasa tidak henti-hentinya dari saya dan keluarga serta teman-teman yang sejak tahun 2002 memang khusus berdoa semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman untuk mempunyai pesantren yang berdekatan dengan Universitas Indonesia, dan hari ini terkabul semuanya itu. Tinggal tahudduts binni’mah dan tasyakkur bil fi’li.

Maka untuk Pesantren Al-Hikam di Depok tetap kita namakan Pesantren Al-Hikam, yaitu bentuk jamak atau bentuk plural dari hikmah yang yang artinya inti dari setiap fenomena. Hari ini kita banyak mempunyai prasarana tetapi kehilangan maknanya. Artinya ada sesuatu yang paling inti yang keluar dari diri kita, sementara kita terus menumpuk informasi ilmu. Oleh karenanya, maka di Al-Hikam Depok ini sendi yang hilang itu akan kita bangun agar menjadi sendi yang kongkrit.  Ada empat sendi yang akan kita bangun.

Sendi yang pertama adalah Al-Qur’an yang hari ini kita buka dengan Peresmian Kuliah Perdana dari Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam Depok. Kenapa saya sebut Kulliyatul Qur’an, saya berharap agar kuliah disini mempunyai dua makna. Kulliyah artinya pelajaran dan kulliyah artinya keutuhan, bukan jaz’iyyah sehingga kulliyatul qur’an adalah bentuk daripada keutuhan Al-Quran itu tanpa digunakan secara sektoral saja.

STKQ atau Kulliyatul Qur’an ini adalah sendi pertama dari empat sendi yang dibuat oleh Al-Hikam di Depok. Kulliyatul Qur’an terdiri dari anak-anak yang sudah hafal 30 juz dan mempunyai ijazah SLTA. Maka mudah-mudahan dengan tambahan ijazah itu akan mempermudah dia mulai ke strata 1 sampai pada tingkat doktoral, dan apapun yang bisa dilakukan Al-Hikam untuk kepentingan anak-anak akan kita lakukan secara optimal.

STKQ ini dibagi menjadi 5 tahun. Tahun pertama penguasaa ilmu-ilmu alat. Tahun kedua dengan ilmu alat itu, semoga dapat dipakai untuk mengerti Al-Qur’an. Tahun yang ketiga, kita berharap anak-anak sudah bisa mengerti Al-Qur’an secara ijmali dan tafsili. Dan tahun yang ke empat adalah korelasi atau penyambungan ilmu Al-Qur’an dengan kehidupan. Pada tahun kelima tidak segera keluar kita keluarkan ijazah sebelum anak-anak mau mengabdi kepda masyarakat dengan ilmunya.

Sendi yang kedua adalah intelektual yang diwujudkan dalam bentuk Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok. Insyallah apabila tuhan mengizinkan bulan oktober yang akan datang, 2 bulan setelah penerimaan mahasiswa-mahasiswa umum, akan kita buka Pesantren Mahasiswa yang orangya adalah anak-anak mahasiswa umum yang belum pernah mengenyam pendidikan agama(pesantren).

Sendi yang ketiga yang kita programkan adalah kajian dan latihan (Short course dan regular course). Masalah keislaman tidak cukup hanya dikaji normatif saja tapi harus disambungkan dengan kondisi yang ada, sehingga dengan demikian dia tidak hanya tahu kebenaran tapi tahu cara menyelesaikan kebenaran itu. Cara, ternyata tidak kalah pentingnya dari kebenaran itu sendiri, karena kebenaran yang dilakukan secara salah justru akan memukul balik kebenaran yang di perjuangkannya.

Sendi yang ke empat adalah sendi pengabian sosial. Sendi pengabdian sosial ini baru kita mulai dengan berdirinya Poliklinik kemudian akan dilanjutkan dengan berdirinya berbagai macam pengembangan-pengembangan mabadi’(bangunan) kahira ummah. Jadi mabda’-mabda’ atau bangunan untuk pengembangan civil society akan kita kembangkan sesuai kemampuan dan kondisi yang ada. Dengan demikian maka korelasi al-‘ilaqah atau sambung menyambung dari empat sendi tadi semoga akan melahirkan suatu kesimpulan yang terakhir yakni kesimpulan islam rahmatan lilal’amin.

Semoga apa yang menjadi angan-angan ini menjadi kenyataan, semoga itu dapat kenyataan dan diridai allah SWT.