STKQ Al Hikam Depok - Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al Hikam Depok kembali menggelar pembukaan Puasa Arba’in pada Sabtu (20/12/2025) yang bertempat di Maqbarah Abah Hasyim Muzadi. Program ini merupakan kegiatan wajib bagi mahasiswa\i semester V sebagai upaya penguatan spiritual serta internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an yang telah dipelajari selama perkuliahan dan dirosah.
Kegiatan Puasa Arba’in tersebut dipimpin oleh Mursyid Thariqah Qadiriyah Al Arokiyah, KH. Hilmi As Shidqi Al Aroky. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa Puasa Arba’in merupakan proses menumbuhkan keikhlasan agar ilmu Al-Qur’an tidak berhenti pada hafalan dan pemahaman teks, tetapi benar-benar menjiwai hati dan melahirkan hikmah.
Menurut beliau, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu jalan untuk memperoleh ilmu ladunni adalah melalui proses keikhlasan yang panjang. Ilmu yang telah dipahami melalui kajian Al-Qur’an, tafsir, dan berbagai disiplin keilmuan harus diinternalisasikan hingga hadir dalam hati sebagai sumber kebaikan. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 269:
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَاب
“Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Kyai Hilmi menjelaskan bahwa hikmah merupakan kebaikan yang terus bertumbuh dan memberi manfaat luas bagi seluruh alam. Oleh karena itu, proses menumbuhkan hikmah harus ditempuh melalui latihan keikhlasan, salah satunya dengan puasa. Beliau juga menekankan bahwa puasa merupakan amal yang paling dekat dengan keikhlasan, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa merupakan ibadah yang tidak tampak secara lahiriah sehingga melatih seseorang untuk beramal murni karena Allah SWT. Keikhlasan inilah yang menjadi proses tarassukh, yaitu pemantapan ilmu agar benar-benar menetap dan menjiwai hati. Dalam penjelasannya, Kyai Hilmi juga menukil hadis yang sering disampaikan Imam Al-Ghazali dalam pembahasan ilmu ladunni:
مَنْ أَخْلَصَ لِلّٰهِ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، ظَهَرَتْ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
“Barang siapa mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama empat puluh pagi, maka akan memancar sumber-sumber hikmah dari hatinya melalui lisannya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis tersebut menjadi dasar pelaksanaan riyadhah selama empat puluh hari yang diamalkan oleh para ulama dan ahli thariqah, salah satunya melalui Puasa Arba’in, sebagai sarana melatih keikhlasan lahir, bathin, ruh, akal, jiwa dan jasad.
Melalui Puasa Arba’in ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan hati sebagai sumber hikmah, sehingga ilmu yang dimiliki tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membawa rahmat bagi sesama.
Sebagai penutup, Kyai Hilmi menegaskan bahwa Puasa Arba’in merupakan ikhtiar dan upaya untuk memohon keridaan Allah SWT agar menyertai perjalanan hidup, khususnya dalam proses thalabul ilmi. Melalui latihan keikhlasan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjiwai Al-Qur’an, menjiwai ilmu, serta menginternalisasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan. Adapun hasil dari seluruh ikhtiar tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT sebagai bentuk tawakal.
Kegiatan pembukaan Puasa Arba’in kemudian ditutup dengan zikir dan doa bersama.
