Depok, 15 Juli 2026 - Pesantren Al-Hikam Depok menerima kunjungan rombongan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) bersama mahasiswa Nanzan University, Jepang, dalam rangkaian kegiatan The Indonesia and English Language Study Program. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026 ini menjadi ruang pertemuan lintas budaya dan agama untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat serta keberagaman beragama di Indonesia.

Kunjungan tersebut diawali dengan sambutan dari Manajer Kerja Sama dan Ventura FIB UI, Junaidi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa salah satu tujuan kegiatan adalah memberikan pemahaman kepada mahasiswa Nanzan University mengenai keberagaman budaya, masyarakat, dan kehidupan beragama di Indonesia. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pesantren Al-Hikam Depok yang telah menerima rombongan dengan hangat.

Perwakilan Nanzan University, Prof. Mikihiro Moriyama, turut menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan untuk berkunjung dan berdiskusi secara langsung di lingkungan pesantren. Ia menjelaskan bahwa selama kurang lebih satu bulan, mahasiswa Nanzan University telah mempelajari Indonesia dari berbagai aspek, seperti sosial, budaya, dan agama. Namun, pemahaman mereka mengenai Islam masih terbatas sehingga kunjungan ke Pesantren Al-Hikam menjadi kesempatan penting untuk mengenal Islam secara lebih dekat.

Menurut Prof. Moriyama, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki karakter kehidupan beragama yang menarik untuk dipelajari. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa Nanzan University diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai ajaran Islam sekaligus membandingkannya dengan kehidupan beragama dan ajaran Buddha yang berkembang di Jepang.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Al-Hikam Depok, KH. Muhammad Yusron Shidqi, Lc., M.Ag., menyambut baik kedatangan rombongan FIB UI dan Nanzan University. Ia menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi kesempatan belajar bagi para tamu, tetapi juga bagi keluarga besar Pesantren Al-Hikam.

Menurutnya, pertemuan lintas budaya seperti ini dapat menjadi sarana untuk saling mengenal berbagai cara pandang, budaya, serta filosofi kehidupan masyarakat dari negara yang berbeda. Ia juga mengutip firman Allah SWT,سِيْرُوْا فِيْ الْاَرْضِ yang berarti “berjalanlah di muka bumi” sebagai salah satu landasan pentingnya perjalanan dan pengenalan terhadap dunia.

Dalam pemaparannya, KH. Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan ajaran Islam melalui tiga aspek utama, yakni Iman, Islam, dan Ihsan. Iman berkaitan dengan keyakinan terhadap hal-hal yang bersifat nyata maupun gaib, sementara Islam berkaitan dengan bagaimana keyakinan tersebut diwujudkan dalam kehidupan melalui perilaku yang benar. Adapun Ihsan dijelaskan sebagai sikap berbuat baik dengan tulus karena Allah SWT.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam menjalankan kehidupan, Islam memiliki sejumlah tujuan utama yang perlu dijaga. Di antaranya adalah menjaga nyawa, keluhuran beragama, akal, keturunan atau nasab, harta, kehormatan diri, serta lingkungan. Ketujuh hal tersebut memiliki skala prioritas dalam penerapannya, dengan menjaga jiwa ditempatkan sebagai prioritas utama.

Dalam konteks kehidupan modern, perpaduan antara Iman, Islam, dan Ihsan dinilai dapat menjadi salah satu jawaban terhadap krisis eksistensial yang dihadapi masyarakat. Kemajuan teknologi, menurutnya, tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kebahagiaan maupun terpenuhinya kebutuhan spiritual manusia. Karena itu, kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual.

Dialog Lintas Budaya dan Agama

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Mahasiswa Nanzan University mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai konsep kebaikan dalam Islam, pernikahan beda agama, pendidikan agama bagi anak, hingga pandangan masyarakat Jepang terhadap imigran.

Salah satu mahasiswa Nanzan University, Reina, menanyakan mengenai ukuran suatu perilaku dapat disebut sebagai tindakan yang baik. Menanggapi pertanyaan tersebut, KH. Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan bahwa dalam Islam, ukuran utama baik dan buruk adalah ajaran agama. Namun, apabila suatu persoalan tidak diatur secara khusus, penilaiannya dapat mempertimbangkan dampak tindakan serta norma yang berlaku di masyarakat.

Ia mencontohkan bahwa membantu orang lain tidak selalu berarti melakukan kebaikan. Sebuah tindakan perlu dilihat dari konteks dan akibat yang ditimbulkan. Dengan demikian, seseorang perlu mempertimbangkan skala prioritas dan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan.

Pertanyaan lain disampaikan oleh Nowa mengenai pernikahan beda agama dan pendidikan agama bagi anak. Dalam kesempatan tersebut, KH. Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan pandangan Islam mengenai ketentuan pernikahan beda agama serta pentingnya pendidikan agama yang diberikan melalui arahan, argumentasi yang baik, dan keteladanan, bukan semata-mata melalui pemaksaan.

Dialog juga membahas kehidupan masyarakat Jepang dan keberadaan imigran, khususnya umat Islam. Perwakilan mahasiswa Nanzan University menjelaskan bahwa masyarakat Jepang pada umumnya semakin memahami kebutuhan umat Islam, termasuk kebutuhan untuk melaksanakan salat. Bertambahnya jumlah imigran Muslim juga mendorong tersedianya fasilitas ibadah di sejumlah tempat.

Selain itu, mahasiswa Pesantren Al-Hikam turut mengajukan pertanyaan mengenai stereotip masyarakat Indonesia terhadap Jepang yang dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang disiplin dan pekerja keras. Perwakilan Nanzan University menjelaskan bahwa pandangan tersebut memang memiliki dasar dalam budaya Jepang, tetapi etos kerja yang tinggi juga telah menjadi bagian dari kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil.

Kunjungan FIB UI dan Nanzan University ke Pesantren Al-Hikam Depok menjadi momentum untuk mempertemukan mahasiswa dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda dalam suasana dialog yang terbuka. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai Islam dan kehidupan pesantren, tetapi juga belajar memahami keberagaman perspektif, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia maupun Jepang.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya ruang dialog lintas budaya dan agama sebagai sarana membangun pemahaman, memperluas wawasan, serta menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman masyarakat global.