Depok - Keluarga besar Pesantren Mahasiswa Al Hikam menyelenggarakan tahlil dan doa bersama dalam rangka Haul ke-9 KH. Ahmad Hasyim Muzadi dan Haul ke-6 Gus Hilman Wadjdi, pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di selasar Masjid Al Hikam Depok dan dihadiri oleh keluarga besar Al Hikam Depok dan Malang, para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), ulama, alumni, serta masyarakat sekitar.
Acara diawali dengan pembacaan tawasul yang dipimpin oleh KH. Hilmi Shidqi Al ‘Aroky. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh KH. M. Yusron Shidqi, Lc., M.A. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran agama yang ditopang oleh sistem pemerintahan yang baik agar nilai-nilai keislaman dapat berjalan secara langgeng dan bermartabat.
Ia juga mengenang cita-cita KH. Ahmad Hasyim Muzadi dalam mendirikan Pesantren Mahasiswa Al Hikam, yakni mencetak kader bangsa yang berintegritas, amanah, dan memiliki pemahaman keislaman yang kuat. Menurutnya, Abah Hasyim menginginkan lahirnya pejabat dan birokrat yang islami, sekaligus ulama yang memahami sistem pemerintahan, sehingga tidak terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula ulama dan cendekiawan nasional Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. Dalam mau‘idzah hasanah-nya, TGB mengenang sosok Abah Hasyim Muzadi sebagai ulama yang lahir dan besar di Nusantara, namun memiliki kiprah dan pengaruh yang mendunia.
“Abah Hasyim Muzadi merupakan produk lokal dengan kontribusi global. Meski tidak menempuh pendidikan formal di Timur Tengah, kiprah dan manfaat beliau dirasakan hingga ke berbagai penjuru dunia,” ujar TGB.
Lebih lanjut, TGB menyampaikan bahwa Abah Hasyim mengharapkan para santri memiliki pemahaman sistemik dan kesadaran sosial yang kuat. Dengan bekal nilai-nilai pesantren, seorang santri diharapkan mampu menunaikan amanah di mana pun berada dan berperan aktif di tengah masyarakat, bukan berada di pinggiran. Menutup nasihatnya, TGB berpesan agar kecintaan kepada Abah Hasyim Muzadi tidak berhenti pada pembacaan doa dan tahlil semata, melainkan diwujudkan melalui pengamalan manhaj serta keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Pendidikan dan Kebudayaan Turki di Jakarta, Dr. Jamal. Beliau menegaskan bahwa Ilmu pengetahuan dan ilmu agama pada hakikatnya tidak dapat dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi dan menjadi fondasi penting dalam membentuk manusia yang utuh. Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan analitis, rasionalitas, serta keterampilan untuk membaca dan mengelola realitas kehidupan, sementara ilmu agama menanamkan nilai moral, etika, dan orientasi spiritual agar ilmu yang dimiliki tidak kehilangan arah dan tujuan.
Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan bertanggung jawab secara sosial. Tanpa ilmu agama, ilmu pengetahuan berpotensi kehilangan nilai kemanusiaannya. Sebaliknya, tanpa ilmu pengetahuan, pemahaman keagamaan dapat terjebak pada sikap sempit dan sulit menjawab tantangan zaman.
Acara ditutup dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Hilmi Shidqi Al ‘Aroky, dilanjutkan pembacaan manaqib KH. Ahmad Hasyim Muzadi oleh Ustadz Dr. Ali Fitriana, M.Ag., yang menyoroti tiga falsafah hidup Abah Hasyim, yakni berani melarat, berani kesulitan, dan membantu tanpa syarat. Sebagai penutup, panitia menayangkan video dokumenter perjuangan dakwah KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Para asatidz berharap, kegiatan haul ini dapat menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi santri dan alumni Al Hikam untuk terus melanjutkan cita-cita dan perjuangan Abah Hasyim Muzadi.
