Depok - Peringatan Nuzulul Qur’an di Pesantren Al-Hikam Depok dilaksanakan di Masjid Al-Hikam Depok pada malam 17 Ramadan (7/3/2026). Acara tersebut diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Lalu Saifullah, kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Muhammad Yusron Shidqi, Lc., M.Ag.

Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan sebuah pesan yang dahulu pernah disampaikan oleh ulama karismatik Indonesia, Maimun Zubair. Diceritakan bahwa Mbah Moen pernah berpesan kepada para santrinya agar berhati-hati ketika berceramah di bulan Ramadan. Bahkan, beliau cenderung menganjurkan agar para santri tidak terlalu banyak berceramah pada bulan tersebut. Hal ini dikhawatirkan karena dalam ceramah sering muncul cerita atau perkataan yang belum tentu benar, baik karena tidak diverifikasi maupun sekadar bercanda dengan mengarang cerita.

Karena itulah para kiai terdahulu lebih memilih mengisi Ramadan dengan mengaji kitab. Kitab dibaca dan disyarahi secara ringkas, tanpa banyak cerita tambahan, agar lebih terjaga dari kemungkinan menyampaikan sesuatu yang tidak benar. Beliau kemudian mengingatkan sebuah riwayat hadis yang diriwayatkan oleh Al-Daylami yang menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang dapat merusak pahala puasa seseorang:

 خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْغِيبَةُ، وَالنَّمِيمَةُ، وَالْكَذِبُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ، وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ

Artinya:

"Ada lima hal yang merusak (pahala) puasa orang yang berpuasa: ghibah, namimah (adu domba), berbohong, memandang dengan syahwat, dan sumpah palsu."

Hal-hal tersebut sering kali terjadi dalam percakapan sehari-hari tanpa disadari, bahkan dapat muncul dalam ceramah jika seseorang tidak berhati-hati dalam berbicara. Lebih jauh, beliau mengajak jamaah untuk merenungi firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 46:

 أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Ayat tersebut menjelaskan bahwa bukanlah mata yang buta, melainkan hati yang berada di dalam dada. Melalui ayat ini beliau menjelaskan bahwa manusia memiliki dua jenis "mata", yaitu mata kepala yang melihat kejadian dan mata hati yang memahami makna dari kejadian tersebut. Sering kali seseorang melihat berbagai peristiwa dalam kehidupan, kesulitan, kegagalan, atau akibat dari perbuatan buruk, namun tidak mengambil pelajaran darinya. Dalam kondisi seperti inilah Al-Qur’an menyebut bahwa yang buta sebenarnya bukanlah mata, melainkan hati.



Beliau juga menyinggung fenomena yang sering terjadi ketika seseorang menghadapi masalah. Ada yang mencoba menenangkan diri dengan berjalan-jalan, memancing, atau sekadar menggulir media sosial. Namun terkadang hal tersebut justru menambah beban pikiran. Padahal Al-Qur’an telah mengajarkan cara menghadapi musibah dengan mengingat Allah dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya.

Zikir “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” tidak hanya diucapkan ketika seseorang meninggal dunia, tetapi juga ketika menghadapi berbagai musibah dalam kehidupan. Dengan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, seseorang akan lebih mudah bersabar dan menerima keadaan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an saja tidak cukup jika tidak disertai dengan penghayatan dan pengamalan. Ada orang yang berkali-kali khatam Al-Qur’an, tetapi hidupnya tetap gelisah. Hal ini bukan karena Al-Qur’annya, melainkan karena yang membaca hanya matanya, sedangkan hatinya tidak ikut merenungi maknanya. Salah satu tanda hubungan seseorang dengan Al-Qur’an tidak baik adalah ketika ia mengetahui suatu kebaikan tetapi tidak melakukannya, atau mengetahui suatu keburukan tetapi tetap mengerjakannya. Demikian pula ketika ibadah terasa berat, bahkan ibadah yang bersifat wajib seperti salat.

Di akhir tausiyahnya, beliau mengajak para jamaah untuk menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai pengingat agar kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Al-Qur’an diibaratkan seperti penunjuk arah dalam perjalanan hidup. Jika petunjuknya diikuti, manusia akan sampai pada tujuan dengan selamat. Namun jika diabaikan, maka manusia mudah tersesat. Karena itu, generasi yang diharapkan dari turunnya Al-Qur’an bukan hanya generasi yang pandai membaca, tetapi juga generasi yang membaca dengan hati serta mengamalkan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.