Peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an membutuhkan pembinaan yang konsisten, terutama bagi masyarakat dengan tingkat penguasaan bacaan yang beragam. Melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) Pengabdian Masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan keagamaan di Majlis An-Nur, Perumahan Linggasari, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Kegiatan berlangsung pada 13 Juli hingga 17 Agustus 2026 dengan melibatkan tiga mahasiswa, yaitu Aziza Chandra, Laily Zumrotul Mahmudah, dan Mumtazatul Khafidoh. Di bawah arahan Ustadz Nur Khamid selaku pimpinan majlis, mahasiswa mendampingi pembelajaran Al-Qur’an untuk anak-anak dan ibu-ibu, kajian fikih, kultum, serta kegiatan tadarus dan evaluasi.
Pembinaan Tahsin dengan Pendampingan Bacaan Secara Langsung
Salah satu program utama pengabdian adalah pembelajaran Al-Qur’an dan tahsin yang dilaksanakan secara rutin setelah salat Maghrib. Materi disesuaikan dengan kemampuan peserta. Anak-anak yang masih berada pada tahap dasar memperoleh bimbingan membaca Iqra’, mengenal dan menyambung huruf hijaiyah, serta latihan menulis huruf Arab. Peserta yang sudah mampu membaca Al-Qur’an diarahkan untuk memperbaiki makharijul huruf dan menerapkan hukum tajwid. Mahasiswa menggunakan pendekatan simak individual. Setiap peserta membaca secara bergiliran, kemudian pendamping mengoreksi pelafalan yang kurang tepat dan memberikan contoh bacaan untuk diikuti. Cara ini memungkinkan pembimbing menyesuaikan arahan dengan kebutuhan setiap peserta, baik anak-anak maupun ibu-ibu. Artikel pengabdian yang disusun dari studi lapangan tersebut mencatat adanya perkembangan positif pada kelancaran dan ketepatan bacaan peserta. Kehadiran mahasiswa juga menambah intensitas pendampingan, sehingga peserta memperoleh kesempatan lebih besar untuk berlatih dan menerima koreksi secara langsung. Temuan ini bersifat deskriptif berdasarkan pengamatan lapangan, bukan hasil pengukuran peningkatan dengan skor tes.
Kajian Fikih, Kultum, dan Penguatan Kegiatan Keagamaan
Selain program tahsin, mahasiswa turut menyampaikan kajian fikih kepada ibu-ibu dengan materi yang dekat dengan persoalan ibadah sehari-hari. Sebelum disampaikan, materi dibahas bersama ustadz pembimbing agar isi kajian sesuai dengan rujukan keagamaan dan kebutuhan jamaah. Mahasiswa juga mendapat kesempatan menyampaikan kultum setelah salat Isya pada waktu tertentu serta dalam kegiatan bersama bapak-bapak dan karyawan. Kegiatan ini menjadi sarana untuk menyebarluaskan pemahaman keislaman sekaligus melatih kemampuan mahasiswa dalam menyampaikan materi secara jelas kepada kelompok jamaah yang berbeda. Sebagai bagian dari persiapan dan evaluasi, mahasiswa mengikuti tadarus di Masjid Al-Hakim setelah salat Ashar. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan diskusi dan evaluasi bersama Ustadz Nur Khamid untuk meninjau pelaksanaan pembinaan dan menyiapkan materi kegiatan berikutnya.
Pendampingan Personal untuk Menjawab Keragaman Kemampuan Peserta
Selama pelaksanaan program, mahasiswa menghadapi perbedaan kemampuan awal, karakter, dan tingkat konsentrasi peserta. Sejumlah anak memerlukan waktu lebih lama untuk memahami bacaan, sementara sebagian lainnya mudah kehilangan fokus saat pembelajaran. Mahasiswa menanggapinya melalui cara mengajar yang lebih komunikatif, latihan bertahap, dan pendampingan personal kepada peserta yang membutuhkan perhatian tambahan. Pengalaman PKL di Majlis An-Nur menunjukkan pentingnya kerja sama antara mahasiswa, pengasuh majlis, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pembinaan Al-Qur’an. Kedepan, pengelompokan peserta berdasarkan kemampuan, penggunaan metode belajar yang lebih variatif, serta pelibatan pendamping dari lingkungan setempat dapat menjadi langkah pengembangan program setelah masa PKL berakhir.
