Depok - Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al-Hikam Depok menggelar wisuda dan pengukuhan mahasantri baru tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di selasar Masjid Al-Hikam Depok, Minggu (20/09/2026).

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Al-Hikam Depok Prof. Arif Zamhari, Ph.D. mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Menurutnya, wisuda menjadi awal perpindahan dari menuntut ilmu menuju pengabdian yang lebih luas.

"Wisuda ini hanyalah penanda bahwa Anda telah menyelesaikan tugas menuntut ilmu di pesantren ini. Artinya, ini bukan akhir dari perjalanan Anda menuntut ilmu. Karena itu, apa yang kalian peroleh, ilmu yang kalian dapatkan di pesantren ini hendaknya diamalkan, karena ini adalah awal kalian pindah dari menuntut ilmu menuju pengabdian yang lebih luas," jelas Prof. Arif.

Sementara itu, Ketua Pesantren Mahasiswa Al-Hikam KH. Muhammad Yusron Shidqi menegaskan kewajiban setiap orang untuk mendidik dirinya sendiri. Menurutnya, menuntut ilmu adalah beban yang diwajibkan bagi setiap orang. Ia pun berpesan agar para wisudawan selalu mendekatkan diri dengan majelis ilmu meski telah menyelesaikan proses belajar di pesantren.

"Dikarenakan belajar adalah fardu, sebagaimana fardunya salat, puasa, zakat, dan sebagainya, maka yang bertanggung jawab untuk mengedukasi dirinya adalah kita semua. Oleh karena itu, yang paling kami khawatirkan justru bukan para santri yang baru masuk, akan tetapi santri yang sudah wisuda pada hari ini. Maka pesan saya kepada seluruh wisudawan, tetaplah mendekat pada majelis ilmu," ujar Gus Yusron.



Setelah prosesi wisuda dan pengukuhan santri baru dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan sesi orasi ilmiah yang menghadirkan Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, sebagai narasumber. Ia membawakan tema "Menyemai Ilmu Dengan Akhlak: Menjalankan Regulasi Dengan Integritas."

Dalam orasinya, Prof. Agustino Zulys menjelaskan formulasi untuk menjadi santri yang berdampak. Formula tersebut terdiri dari empat aspek: ilmu, iman, integritas, dan ikhtiar. Menurutnya, keempat aspek itu harus ada karena tujuan menjadi santri yang berdampak tidak akan tercapai jika salah satunya hilang.

"Saya membuat formulasi bagaimana kita menjadi manusia, santri yang berdampak. Ada empat formula saya ini, yaitu bahwa impact itu sama dengan ilmu dikalikan iman, dikalikan integritas, dan dikalikan dengan ikhtiar. Tidak boleh ada yang nol, karena ini perkalian bukan penjumlahan. Jika salah satunya nol, maka dampaknya juga nol. Orang yang berilmu tapi tanpa iman, maka ilmunya ini akan digunakan untuk eksploitasi saja, hanya digunakan untuk kemaslahatan diri dan kepuasan nafsunya saja. Begitu pula iman tanpa ilmu, tidak akan berkembang dengan baik," jelasnya.

Harapan besar disematkan kepada para wisudawan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pesantren, tetapi tumbuh menjadi pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, mereka diharapkan tetap menjaga kedekatan dengan majelis ilmu, karena perjalanan menuntut ilmu sesungguhnya tidak berakhir pada momen wisuda.

Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar dari awal hingga akhir. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Dr. KH. Nur Wahidin.

Sebagai informasi tambahan, wisudawan tahun ini terdiri dari 15 santri Pesma dan 7 santri Pesmi (Pesantren Mahasiswa). Selain wisuda, Pesma Al-Hikam juga melaksanakan pengukuhan santri baru. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Yayasan Al-Hikam Prof. Arif Zamhari, Ph.D.; Ketua Pesantren Mahasiswa Al-Hikam KH. Muhammad Yusron Shidqi, Lc., M.A.; Ketua PCNU Kota Depok Ahmad Solehan, S.Si., M.Si.; serta tamu spesial Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc., Guru Besar FMIPA UI. Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat dan tamu undangan lain yang memberikan dukungan serta apresiasi kepada para wisudawan dan wisudawati.